Herman Deru: Anak Sekarang Lebih Kenal Tokoh Youtube daripada Tetangga

Palembang, IDN Times - Gubernur Sumsel, Herman Deru menyampaikan, untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak, maka harus diatasi mulai dari titik awal sebelum kekerasan terjadi, hingga penanganan masalah setelah kekerasan terjadi.
Karena, sambung Herman Deru, gangguan psikis pada anak terhadap kekerasan itu, menghadirkan trauma. Kekerasan terhadap anak itu juga tidak hanya dilihat dari tindakan fisik saja, tidak terpenuhi kebutuhan anak juga bisa dianggap sebagai tindak kekerasan.
"Saya ingin hak anak terlindungi. Karena kita sering menemukan gangguan psikis anak yang disebabkan kekerasan. Seperti anak yang mendapat kekerasan seksual, secara hukum sudah teratasi dan pelakunya dihukum, tetapi sang anak akan trauma dan hidup tersiksa," ujar dia, pada Pelantikan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Sumsel, Senin (20/1).
1. Tangkal kekerasan terhadap anak dengan tindakan preventif

Herman Deru mengungkapkan, untuk menangkal setiap tindakan kekerasan terhadap anak, tentu harus dimulai dengan tindakan preventif sedini mungkin. Orang tua juga harus sesegera mungkin untuk mendapatkan informasi tentang semua hak-hak anak yang harus dipenuhi.
"Paling penting itu kepedulian, gak cukup dari keprihatinan jika terjadi kekerasan. Jangan hanya melihat saat terjadi masalah. Bahkan kekerasan dalam rumah tangga pun berdampak, serta bagaimana hak bermain anak terpenuhi," ungkap dia.
2. Tanpa bimbingan anak tidak mengenal tetangga depan rumahnya

Herman Deru menjelaskan, keprihatinan dengan tumbuh pesatnya teknologi, membuat anak-anak menjadi antisosial. Jika tidak dibimbing, dikhawatirkan masa depan anak-anak akan tumbuh menjadi orang-orang tanpa kepedulian sosial.
"Anak sekarang lebih kenal tokoh YouTube dari tetangga di depan rumahnya. Jangan kita biarkan anak-anak masa depan menjadi unsos," jelas dia.
3. Perlindungan anak tidak hanya tersegmentasi pada satu lembaga saja

Sementara, Komisioner Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Susanto menerangkan, perlindungan anak tidak hanya tersegmentasi pada satu lembaga saja. Namun bisa menembus lintas sektoral, seperti masalah infrastruktur, pendidikan, sosial, budaya dan lain hal.
"Angka kekerasan secara detail kita belum tahu di Sumsel seperti apa. Namun, selama ini memang di Sumsel tidak terlalu mencuat dibanding daerah lain. Kita berharap dengan adanya KPAD dapat menekan kasus yang ada," jas dia.
4. KPAD sebut ada 2,8 juta anak di Sumsel yang butuh perhatian

Di tempat yang sama, Ketua KPAD Sumsel, Eko Wirawan mengatakan, saat ini pihaknya fokus pada pemenuhan 8 hal anak yang sudah di rangkum oleh KPAI. Data yang dipegang KPAD di Sumsel, ada sebanyak 2,8 juta anak yang tersebar di 13 kabupaten/kota se Sumsel. Semuanya butuh perhatian dan pengawasan, agar masalah kekerasan dapat ditanggulangi dan dicegah.
"Kami menginginkan ada program sekolah layak anak. Hak anak secara mendasar harus dipenuhi seperti bermain, dan pendidikan. Dalam waktu dekat kami akan berkoordinasi dengan dinas pendidikan untuk membahas masalah pendidikan anak di Sumsel," tandas dia.
Baca artikel menarik lainnya di IDN Times App. Unduh di sini http://onelink.to/s2mwkb