Ini Penyebab Sumsel Sulit Mengekspor Sarang Burung Walet ke Asia

Palembang, IDN Times -Kepala Balai Karantina Kelas 1 Palembang, Bambang Hesti Susilo mengungkapkan, Sumsel masih mengalami kesulitan mengekspor sarang burung walet ke negara-negara di Asia.
"Selain karena masih kalah dengan Vietnam dam Malaysia, masalah utamanya karena belum memiliki pabrik pencucian burung walet, dan membutuhkan serapan sekitar 1.500 tenaga kerja dalam satu pabrik, yang mampu memproduksi olahan sarang burung walet hingga berpuluh-puluh bahkan ratusan ton," katanya, Rabu (20/11).
Atas dasar itu, paling tidak sementara waktu Sumsel hanya bisa membantu hal-hal yang perlu dibackup. Salah satunya pengecekan kualitas mentahnya. "Karena sebaran ekspor sarang burung walet adalah salah satu sektor non migas andalan Indonesia yang berpeluang besar untuk ditingkatkan," ujar dia.
Bambang melanjutkan, kesulitan lain karena rata-rata negara Asia yang menerima ekspor sarang burung walet menyaratkan ketelusuran (traceability), bersih dengan kandungan nitrit <30 ppm dan telah diproses pemanasan 70ĀŗC selama 3,5 detik.
"Permintaan eksporĀ yang masih tinggiĀ itu ya ke Tiongkok. Sementara untuk menembus kesana membutuhkan standar sertifikasi," ujar Bambang.
Standar terkait pengiriman tersebut,Ā harus memiliki sertifikasiĀ Certification and Accreditation Administration of the Peopleās Republic of ChinaĀ (CNCA). Ditambah, saat ini Tiongkok mulai memperketat barang ekspor masuk.
"Perlu jadi catatan, tingginya ekspor Sumsel ada di produk kelapa sawit, karet, kopi dan pinang. Ekspor hanya bisa anjlok bila harga secara internasional turun. Paling tidak Sumsel harus komitmen dengan komoditi menjanjikan dengan menjaga klasifikasi market dari sistem maksimal grade pangsa pasar, sortasi dan edukasi," tandas dia.
