Pertunjukan lumba-lumba di PTC (IDN Times/Istimewa)
Terpisah, Direktur Ekskutif Walhi Sumsel, Hairul Sobri menuturkan, sebenarnya mulai dari proses pemindahan lumba-lumba dari kota ke kota, pihak penyelenggara juga tidak memenuhi standar.
Karena, jelas Hairul, pertunjukan tersebut cenderung dilatih dengan kekerasan dan ditambah lumba-lumba tidak berada di habitat aslinya, yang membuat hewan ini memiliki umur lebih pendek.
"Bayangkan, setiap hari lumba lumba ini dan mungkin hewan lain, diperdengarkan suara (sound) dan teriakan penonton yang tak mereka dapatkan di habitat aslinya," jelas dia.
Pemahaman ini, sambung dia, seharusnya disampaikan ke masyarakat oleh pemerintah. Salah satu yang bisa menjadi garda terdepan adalah Dinas Perikanan Kota Palembang, BKSDA hingga akademisi.
"Tentunya tidak diberikan izin untuk mengadakan kegiatan pertunjukan. Apabila masih tetap memakai hewan yang dilindungi, wajib dilaporkan dan ditangani serius," tandas dia.
Baca artikel menarik lainnya di IDN Times App, unduh di sini http://onelink.to/s2mwkb