Dilema Atlet Voli Pantai Sumsel, Bawa Nama Daerah Tak Mampu Bayar Sewa

Palembang, IDN Times - Sumsel memang patut bangga, karena memiliki sejumlah fasilitas olahraga dengan standar internasional, yang berada di komplek Jakabaring Sport City (JSC).
Sayangnya, fasilitas kelas dunia tersebut tidak dapat dinikmati oleh seluruh atlet-atlet Sumsel. Karena, mereka harus membayar mahal untuk bisa berlatih di komplek tempat perhelatan Asian Games 2018 itu.
Nada kecewa itu, muncul dari cabang olahraga (Cabor) voli pantai Sumsel. Mereka sudah berjuang untuk lolos pada even kejurnas pra kualifikasi PON XX Papua 2019. Tapi, tim pelatih dan atlet voli pantai Sumsel ini kecewa lantaran tidak bisa latihan di venue JSC.
"Kita sudah lolos ke PON XX Papua, tapi ya tetap saja ada sedikit kecewaan. Karena latihan kita belum maksimal, kita tidak bisa menggunakan fasilitas yang ada di Jakabaring Sport City (JSC)," ujarnya, Pelatih Voli Pantai Sumsel, Giarto, saat dihubungi IDN Times, Senin (9/9).
Tak Mampu Bayar Sewa JSC, Tim Voli Pantai Sumsel Latihan di Sekayu
Nasib Tim Voli Pantai Sumsel, Ada Venue Kelas Dunia tapi Tak Mampu Bayar Sewa
1. Manfaatkan pasir Sungai Musi di Kota Sekayu

Giarto mengungkapkan, mereka tidak dapat latihan di venue voli pantai JSC, karena terhambat dana dan perizinan. Jadi, selama ini mereka latihan sehari-hari dengan apa adanya, di lapangan pasir sendiri.
"Bahkan kita latihan di Sekayu, karena area pasir Sungai Musi disitu cukup banyak. Kami latihan paling Sabtu dan Minggu," ungkapnya.
Lagi pula, keluh Giarto, untuk bisa berlatih di venue voli pantai JSC, membutuhkan dana yang lebih. Karena tiap cabor harus membayar biaya sewa.
"Sayang, dengan tempat megah dan standar tinggi, kami tidak bisa berlatih. Karena dari pihak JSC tidak memperbolehkan latihan, apabila tidak membayar dan melalui izin. Pernah untuk latihan kami harus membayar dengan jutaan, jujur tidak sanggup," keluhnya.
"Kami merasa latihan voli pasir ini, terlalu mahal untuk negeri sendiri. Padahal saya ikut andil dalam pembuatan venue sampai lapangan juga, hingga di sini (venue) tercipta megah. Begitu pun Pak Slamet Kepala Bidang Voli. Kami untuk meminjam lapangan harus menyewa, padahal ini berlatih bukan untuk pribadi saya, tapi untuk provinsi," tuturnya lagi.
2. Pelatih bawa atlet voli pantai berlatih di luar Kota Palembang

Tingginya biaya sewa venue latihan, membuat Giarto membawa anak asuhnya mencari tempat latihan di luar Kota Palembang. Salah satunya di Kota Sekayu atau ke Kota Bangka sekalian refreshing.
"Bahkan kita latihan di saat mengikuti sirkuit di luar kota. Karena mau latihan, kompetisi di Sumsel pun gak ada di regional, untuk sirkuit tadi, Sumsel belum pernah mengadakan. Kami pernah mengikuti di Padang dan Bengkulu," jelasnya.
3. Pengurus voli pantai kurang transparansi

Selain itu, Giarto menuturkan, untuk dapat membesarkan atlet voli pantai, tentu membutuhkan komunikasi yang baik dalam kepengurusan. Kemudian membutuhkan pihak ketiga untuk membantu pendanaan. Tapi, terkadang tidak berkembang karena masih adanya kurang transparansi antar pengurus.
"Kalau dari KONI selama ini ada membantu, tapi hanya sekadar obrolan saja. Itu pun kami mengejar terus, ada sepak terjang dari mereka hanya sebatas omongan. Sementara bantuan sponsor lebih ke voli indoor bukan voli pantai," tuturnya.
Salah satu usaha KONI Sumsel untuk membantu cabor voli pantai, sambung Giarto, dengan bantuan berbicara dengan pengelola JSC. "Hasilnya kami bisa berlatih di sana (JSC) dengan tetap membayar sewa, tetapi dengan biaya kebersihan saja. Ini cukup membantu, tapi sampai sekarang biaya sewa itu belum ada di atas kertas. Sedang menunggu kepastian," jelasnya.

















